Menjaga Marwah Profesi: Analisis Risiko dan Batas Kewenangan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)
DOI:
https://doi.org/10.59059/mandub.v4i1.3419Keywords:
Land Deed Official, Land Law, Legal Authority, Professional Accountability, Risk-Based ThinkingAbstract
Land Deed Officials (Pejabat Pembuat Akta Tanah/PPAT) occupy a position of public trust (vertrouwensberoep) within Indonesia's land administration system, entrusted by the state to draft authentic deeds concerning one of society's most fundamental rights: land. Despite this weighty mandate, PPAT frequently face legal, professional, and reputational risks that arise less from deliberate misconduct than from procedural negligence and a widening gap between normative standards and field practice. This conceptual legal study examines the scope and limits of PPAT authority, categorizes the risks inherent in PPAT practice, and proposes Risk-Based Thinking (RBT), adapted from ISO 31000:2018 and ISO 9001:2015, as a structured framework for preventive legal protection. Employing normative-juridical legal research with statutory, conceptual, and case-illustrative approaches, this study integrates the theoretical perspectives of Hans Kelsen, Philipus M. Hadjon, Lon L. Fuller, Ronald Dworkin, Habib Adjie, and Lawrence M. Friedman to construct a multi-layered accountability framework covering civil, administrative, and criminal liability. The findings indicate that risk-based due diligence, covering the subject, object, and juridical basis of each deed, constitutes a minimum professional standard rather than merely an aspirational ideal. The study concludes that embedding RBT as the operational 'DNA' of PPAT practice is essential to safeguarding both individual accountability and the broader integrity of Indonesia's land law system.
References
Adjie, H. (2008). Hukum notaris Indonesia: Tafsir tematik terhadap UUJN. Refika Aditama.
Dworkin, R. (1986). Law's empire. Harvard University Press.
Friedman, L. M. (1975). The legal system: A social science perspective. Russell Sage Foundation.
Fuller, L. L. (1964). The morality of law. Yale University Press.
Hadjon, P. M. (1987). Perlindungan hukum bagi rakyat Indonesia. PT Bina Ilmu.
Hadjon, P. M. (1994). Tentang wewenang. Yuridika, 9(5–6).
Hafid, M. A., Fahrezi, M. I., Altoffiestin, D., & Ridha, M. C. (2026). Problematika konversi sertifikat fisik lama ke sertipikat elektronik dalam penyelesaian sengketa pertanahan: Studi kasus tumpang tindih sertifikat di Pagar Alam, Sumatera Selatan. Jurnal Hukum Sasana, 12(1). https://doi.org/10.31599/sasana.v12i1.4833
Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah. (n.d.). Kode etik Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT).
International Organization for Standardization. (2015). ISO 9001:2015 quality management systems: Requirements.
International Organization for Standardization. (2018). ISO 31000:2018 risk management: Guidelines.
Kelsen, H. (1967). Pure theory of law (M. Knight, Trans.). University of California Press. https://doi.org/10.1525/9780520312296
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek). (n.d.).
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional. (2023). Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 2023 tentang Penerbitan Dokumen Elektronik dalam Kegiatan Pendaftaran Tanah. Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 461.
Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional. (1997). Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Pemerintah Republik Indonesia. (1998). Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 52.
Pemerintah Republik Indonesia. (2016). Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 120.
Pemerintah Republik Indonesia. (2023). Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2023 tentang Ketentuan Umum Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 105.
Pranata, A., Surahman, S., Elviandri, E., & Alhadi, M. N. (2025). Problematika tanggung jawab Pejabat Pembuat Akta Tanah dalam peralihan hak atas tanah di Provinsi Kalimantan Timur. Jurnal Tana Mana, 6(2).
Republik Indonesia. (1960). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104.
Republik Indonesia. (1996). Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 42.
Republik Indonesia. (2022). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 4.
Republik Indonesia. (2023). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 1.
Sinaga, B. G., Handayani, P., & Hadiyanto, A. (2026). Penguatan peran preventif Notaris dan PPAT dalam mencegah sengketa pertanahan akibat jual beli tanah di bawah tangan. Jurnal USM Law Review, 9(2). https://doi.org/10.26623/julr.v9i2.13931
Subekti, S. (2026). Menjaga marwah profesi: Analisis risiko dan batas kewenangan PPAT [Materi seminar]. Program Studi Magister Kenotariatan, Fakultas Hukum, Universitas 17 Agustus 1945 Semarang.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Mandub : Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.






