Reformulasi Pengaturan Diversi Bagi Tindak Pidana dengan Ancaman di Atas Tujuh Tahun dalam Sistem Peradilan Pidana Anak

Authors

  • Sinthya Hesti Wulandari Universitas Mulawarman
  • Rini Apriyani Universitas Mulawarman
  • Nur Aripkah Universitas Mulawarman

DOI:

https://doi.org/10.59059/mandub.v4i3.3318

Keywords:

Children in Conflict with the Law, Diversion, Juvenile Criminal Justice System, Reformulation, Restorative Justice

Abstract

Indonesia mandates diversion as a form of restorative justice; however, Article 7 paragraph (2) of the Juvenile Criminal Justice System Law limits its application to offenses punishable by imprisonment of less than seven years and excludes recidivist offenders. This limitation is reflected in the 0% success rate of diversion at the Samarinda District Court throughout 2024 and its disharmony with Supreme Court Regulation Number 4 of 2014. Using a doctrinal approach supported by field interviews with law enforcement officials in Samarinda, this study analyzes the grounds for considering the application of diversion to children facing criminal charges carrying penalties of more than seven years of imprisonment and formulates a regulatory reformulation. The findings indicate that the application of diversion may be considered from philosophical grounds (doli incapax, ultimum remedium, and restorative justice), juridical grounds (CRC, the Beijing Rules, and Supreme Court Regulation Number 4 of 2014), sociological grounds (family conditions, poverty, peer pressure, and exposure to digital media), and psychological grounds (children's cognitive and emotional immaturity, as well as the risks of prisonization and labeling). This study proposes a reformulation of Article 7 paragraph (2) to allow diversion to be applied to offenses carrying a penalty of seven years of imprisonment or more, provided that the formulated parameters are met.

References

Agnew, R. (2019). General strain theory and crime. Criminology and Criminal Justice, 19(1).

Aprilianda, N. (2012). Implikasi yuridis dari ketentuan diversi dalam instrumen internasional anak dalam hukum anak di Indonesia. Arena Hukum, 5(1), 34–42. https://doi.org/10.21776/ub.arenahukum.2012.00501.4

Arifin, I. S., & Rozah, U. (2021). Konsep doli in capax terhadap anak yang berhadapan dengan hukum di masa depan. Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia, 3(1), 9–15. https://doi.org/10.14710/jphi.v3i1.1-15

Batam Pos. (2026). Hati-hati! True crime community racuni 70 anak dengan konten kekerasan, termasuk pelaku ledakan SMAN 72 Jakarta. https://news.batampos.co.id/hati-hati-true-crime-community-racuni-70-anak-dengan-konten-kekerasan-termasuk-pelaku-ledakan-sman-72-jakarta/

Che, L. Y., & Adhari, A. (2021). Reformulasi kebijakan diversi terhadap seluruh tindak pidana yang dilakukan oleh anak. Jurnal Hukum Adigama, 4(2), 3405. https://doi.org/10.29103/jimfh.v4i3.5179

Danawiharja, Y. L. (2020). Penerapan diversi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum dihubungkan dengan pedoman pelaksanaan diversi dalam sistem peradilan pidana anak. Jurnal Aktualita, 3(1), 463. https://doi.org/10.29313/aktualita.v0i0.6325

Desmita. (2013). Psikologi perkembangan. PT Remaja Rosdakarya.

Djamil, N. (2017). Anak bukan untuk dihukum. Sinar Grafika.

Febriani, N. A., & Wasti, R. M. (2023). Politik hukum pembentukan peraturan perundang-undangan pasca perubahan kedua Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011. Ajudikasi: Jurnal Ilmu Hukum, 7(1), 35–58. https://doi.org/10.30656/ajudikasi.v7i1.6483

Fuller, L. L. (1964). The morality of law. Yale University Press.

Ghoni, M. R., & Pujiyono, P. (2020). Perlindungan hukum terhadap anak yang berhadapan dengan hukum melalui implementasi diversi di Indonesia. Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia, 2(3), 331–342. https://doi.org/10.14710/jphi.v2i3.331-342

Gracia, N. K. S., Rusmana, I. P. E., & Darma, I. M. W. (2026). Kriminogen dalam hubungannya dengan tindak pidana pencurian yang berujung pembunuhan berdasarkan Putusan PN Denpasar Nomor 619/PID.B/2025/PN Dps. AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis, 6(2), 1060. https://doi.org/10.37481/jmh.v6i2.2089

Halim, D. (2019). Sepanjang 2018, KPAI terima 4.885 kasus pelanggaran hak anak. Kompas.com. https://nasional.kompas.com/read/2019/01/08/18472551/sepanjang-2018-kpai-terima-4885-kasus-pelanggaran-hak-anak

Jenar, S., & Harvelian, A. (2021). Landasan yuridis Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2014 tentang percepatan pembangunan daerah tertinggal ditinjau dari teori daya laku hukum (geltung). Iblam Law Review, 1(2), 1–29. https://doi.org/10.52249/ilr.v1i2.21

Johnson, J. C., Lillard, C. M., & Vitacco, M. J. (2019). Criminal risk assessment: Combined static and dynamic approaches. In The SAGE encyclopedia of criminal psychology. SAGE Publications. https://sk.sagepub.com/ency/edvol/the-sage-encyclopedia-of-criminal-psychology-1e/chpt/criminal-risk-assessment-combined-static-dynamic

Kadir, Z. K. (2025). Teori labeling dalam perspektif kebijakan kriminal: Strategi dekriminalisasi untuk menghentikan siklus stigma sosial. Jurnal Hukum dan Sosial Politik, 3(1), 45–60. https://doi.org/10.59581/jhsp-widyakarya.v3i1.4636

Kartono, K. (1992). Patologi sosial 2: Kenakalan remaja. PT Raja Grafindo Persada.

Kurniawan, A. (2025). Restorative justice in juvenile justice systems: A comparative study of Indonesia and Belgium. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 13(3), 40–55. https://doi.org/10.29210/1149900

Marlina. (2009). Peradilan pidana anak di Indonesia: Pengembangan konsep diversi dan restorative justice. Refika Aditama.

Muhammad, N., Azizah, R., Juliantoro, A., & Mahendra, B. D. (2022). Implementasi prinsip kepentingan terbaik untuk anak dalam sistem peradilan anak melalui pemidanaan edukatif. JSHI: Jurnal Syariah Hukum Islam, 1(1), 10.

Muhdar, M. (2019). Penelitian doktrinal dan non-doktrinal: Pendekatan aplikatif dalam penelitian hukum. Mulawarman University Press.

Nadya, S., Muhammad, A. N., Ariq, R., & Muhammad, K. (2024). Pengaruh ketimpangan ekonomi, tingkat kemiskinan, tingkat pendidikan, dan tingkat pengangguran terbuka terhadap kriminalitas di Indonesia tahun 2013–2023. Jurnal Nuansa: Publikasi Ilmu Manajemen dan Ekonomi Syariah, 2(2). https://doi.org/10.61132/nuansa.v2i2.980

Pengadilan Negeri/HI/Tipikor Samarinda Kelas IA. (2025). Ringkasan laporan kinerja instansi pemerintah (LKJIP) tahun 2024. Pengadilan Negeri Samarinda.

Prasetiono, Y., Arifin, Z., & Sudarmanto, K. (2022). Implementasi pemidanaan pelaku penyertaan (deelneming) tindak pidana korupsi. Jurnal USM Law Review, 5(2), 655. https://doi.org/10.26623/julr.v5i2.5241

Salim, H. S., & Nurbani, E. S. (2015). Penerapan teori hukum pada penelitian disertasi dan tesis. PT Raja Grafindo Persada.

Sarwono, S. W. (2008). Psikologi remaja. PT Raja Grafindo Persada.

Simons, I., Mulder, E., Rigter, H., Breuk, R., van der Vaart, W., & Vermeiren, R. (2016). Family-centered care in juvenile justice institutions: A mixed methods study protocol. JMIR Research Protocols, 5(3). https://doi.org/10.2196/resprot.5938

Sitindaon, E. R. (2013). Sistem pemidanaan terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana sebelum dan sesudah pengaturan restoratif justice. Jurnal Mahupiki, 1(10), 10.

Supeno, H. (2010). Kriminalisasi anak. PT Gramedia Pustaka Utama.

Sutatiek, S. (2013). Rekonstruksi sistem sanksi dalam hukum pidana anak di Indonesia. Aswaja Pressindo.

Syamsu, M. A. (2015). Pergeseran turut serta melakukan dalam ajaran penyertaan: Telaah kritis berdasarkan teori pemisahan tindak pidana dan pertanggungjawaban pidana. Prenadamedia Group.

Tianingrum, N. A., & Nurjannah, U. (2020). Pengaruh teman sebaya terhadap perilaku kenakalan remaja sekolah di Samarinda. Jurnal Dunia Kesmas, 8(4), 275–282. https://doi.org/10.33024/jdk.v8i4.2270

Ulum, W. (2026). Asas proporsionalitas dalam penegakan hukum. STEKOM. https://stekom.ac.id/artikel/asas-proporsionalitas-dalam-penegakan-hukum

Unayah, N., & Sabarisman, M. (2015). Fenomena kenakalan remaja dan kriminalitas. Sosio Informa, 1(2), 123. https://doi.org/10.33007/inf.v1i2.142

Widodo. (2013). Prisonisasi anak nakal: Fenomena dan penanggulangannya. CV Aswaja Pressindo.

Wijaya, I. A., & Purwadi, H. (2018). Pemberian restitusi sebagai perlindungan hukum korban tindak pidana. Jurnal Hukum dan Pembangunan Ekonomi, 6(2), 97. https://doi.org/10.20961/hpe.v6i2.17728

Adnyana, I. D. G. K., & Yustiawan, D. G. P. (2025). Konflik norma penerapan diversi pada Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak dan Perma No. 4 Tahun 2014. Jurnal Media Akademik (JMA), 3(7).

Bandura, A., & Walters, R. H. (1977). Social learning theory. Prentice-Hall.

Wawancara dengan Amanda, B., selaku Banit PPA Polresta Samarinda. (2026, March 16).

Wawancara dengan Bintang Samudera, selaku Kasubsi Penuntutan Kejaksaan Negeri Samarinda. (2026, April 10).

Wawancara dengan Ghadis Nur F., selaku Divisi Psikologi LPKA Samarinda. (2026, March 26).

Downloads

Published

2026-09-10

How to Cite

Sinthya Hesti Wulandari, Rini Apriyani, & Nur Aripkah. (2026). Reformulasi Pengaturan Diversi Bagi Tindak Pidana dengan Ancaman di Atas Tujuh Tahun dalam Sistem Peradilan Pidana Anak . Mandub : Jurnal Politik, Sosial, Hukum Dan Humaniora, 4(3), 317–336. https://doi.org/10.59059/mandub.v4i3.3318

Similar Articles

<< < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.